Posted May 25th, 2010 by andryrinaldi
Dari renungan mengenai “Kerjakan Saja”, dijelaskan bahwa memang suatu hal penting dalam hidup kita yaitu “mengerjakan”. Takkan ada yang lain dari itu. Sebab dengan mengerjakan sesuatu, kita akan tahu kemungkinan benar-salah, baik-buruk, dsb. Cobalah untuk pertimbangkan berbagai kemungkinan yang ada, seandainya salah = tidak apa-apa, yang penting berani mencoba. Setidaknya dengan melakukan, kita telah belajar sesuatu. Dan apabila kita mengerjakan dengan semangat SUKSES, fokuslah pada alasan mengapa kita ingin SUKSES. Kendati alasan-alasan tidak diinginkan(ancaman, waktu mepet, takut salah, tidak nyaman,dll), kerjakan saja. Sebab kita tahu apa yang harus dikerjakan, tindakan apa, hasilnya bagaimana, dan tahu mana yang baik/buruk dikerjakan. Hanya dengan mengerjakan itulah yang membawa kita ke tingkat lebih tinggi, mencapai tujuan, dan menciptakan perubahan, khususnya diri kita. Jadi, kita harus miliki program, melakukan sesuatu, dan menjadikan nyata dari sesuatu. BE A WINNER. Itulah renungan dari saya. Terima kasih.
Posted May 19th, 2010 by andryrinaldi
Dari yang saya baca di presentasi hari Senin kemarin, jelaslah suatu inspirasi berharga dari seorang life survivor alm.Viktor Frankl dalam mencari makna hidup. Ia adalah pendiri ajaran eksistensialisme (self-questioning). Semangat perjuangan hidupnya membuat ia dikenal sebagai guru besar Logoterapi. Mengenai Logoterapi, yaitu mencari makna hidup, ditemukanlah 4 cara mencari makna hidup :
- Melalui karya/tindakan (untuk diri sendiri & orang lain)
- Melalui pengalaman atau mengenal seseorang dalam cinta
- Mengubah diri sendiri
- Mengubah tragedi menjadi kemenangan
Dari situ kita tahu deskripsi makna hidup; antara lain : 1. Memberikan arti/tujuan dalam menjalani hidup. Kita lahir ke dunia dengan suatu tujuan. Dan tujuan itu ada dalam diri kita. Sebab kalau hidup ini tanpa arti/tujuan, kita seakan jalan-jalan di Mall tapi tidak tahu mau lihat apa, lantas buat apa?? 2. Hidup selalu berubah → tujuan hidup juga berubah. Kita tak dapat selamanya statis, ingatlah bumi ini berputar demikianlah kita harus dinamis, selalu berubah seiring waktu. 3. Memiliki tujuan → tahu ke mana arah yang kita tuju, dan tahu caranya bagaimana. Contoh : kita ingin ke Binus University (tujuan kita), caranya beragam, misalnya: naik kendaraan umum (yg sejalur), naik kendaraan pribadi (mobil/motor), dll……
Demikianlah renungan ini, terima kasih, semoga bermanfaat!
tahu ke mana arah yang kita tuju, tahu caranya bagaimana.
Tags: Character Building, logoterapi, makna hidup
Posted May 19th, 2010 by andryrinaldi
Saya ingin belajar kembali materi mengenai “Business Process Model” di mata kuliah IPB, kemudian buat contoh sendiri, lalu lanjutkan dengan materi bab selanjutnya untuk pertemuan 2 minggu lagi. Sebagai hasil, dibuatlah ringkasan materi-materi bab tersebut. Hal ini bertujuan untuk perbaikan nilai UTS saya yang tidak memuaskan.
Tags: Character Building, IPB, UTS
Posted March 18th, 2010 by andryrinaldi
Beberapa minggu yang lalu, saya melihat tayangan film berisikan biografi singkat dari Mahatma Gandhi hasil kreasi BNCC. Sebagai Binusian, kita harus bangga oleh kreativitasnya,kan? Ada baiknya membuat cerita singkat bermakna ini.
Dari biografi tsb, dijelaskan bagaimana rasa hormat kepada orang lain dimulai dari rasa hormat terhadap diri-sendiri. Mahatma Gandhi ialah salah satunya. Mohandas Karamchand Gandhi pada mulanya adalah seorang pengacara kecil tak dikenal, khususnya oleh rakyat Afrika Selatan. Pada pengadilan perdananya disana, ia membela haknya untuk tetap memakai sorban, menunjukkan ia punya “prestige”. Sayangnya, ia merasa dipermalukan sehinggga ia meninggalkan ruang sidang dengan marah.
Bahkan ketika ia naik kereta pun, ia didorong keluar oleh seorang konduktor yang melihatnya duduk bersama orang-orang Eropa. Lalu, ia dibiarkan menggigil di ruang tunggu stasiun dalam kedinginan. Keesokan harinya, ia pun diperlakukan tidak adil dengan duduk di gerbong masinis dan si konduktor di gerbong penumpang,lagi disuruh duduk di pijakan naik KA agar si konduktor dapat merokok di tempat duduknya Gandhi. Sungguh tidak adil baginya hingga ia dipukuli oleh si konduktor saat Gandhi menolak perintahnya.
Ia dapat hikmah dari pengalamannya ke Pretoria, yaitu seberapa banyak penghinaan yg diterima, yang penting ada “self-respect”, dan bersyukur atas pengalamannya diperlakukan hina sebab hal tersebut dapat dijadikan titik balik baginya nanti.
Saat Ia menjadi pemimpin Indian Ambulance Corps, anggotanya terdiri dari berbagai kelas sosial dan agama, menunjukkan seorang Mahatma Gandhi mempunyai “self-respect” terhadap anggota. Sukarelawan Corps tersebut rela berkorban untuk menolong orang lain yang memiliki prasangka terhadap mereka dan yang menolak untuk menghargai hak orang India yang rela berkorban untuk mereka.
Selama hidupnya, Gandhi tinggal bersama orang-orang yg miskin di lingkungan kumuh, dimana mereka disebut “the untouchables” oleh orang India lainnya. Tak seperti orang India lainnya, Gandhi tetap hormat dan peduli kepada mereka. Bahkan, Ia bersedia memindahkan pengikutnya ke rumah-rumah terdekat saat mereka dikucilkan oleh komunitas orang India di sekitarnya.
Gandhi dibunuh oleh kaum nasionalis Hindu oleh sebab ketidaksukaan pada kaum India muslim. Ia meninggal dunia pada 30 Januari 1948 di usia 78 tahun. Ia adalah Bapak Anti-Kekerasan dan juga pembela kebebasan di India. Oleh jasanya yang mulia itu, Ia menginginkan kebebasan yang harap kita lihat di dunia. Semua ini, berawal dari “self-respect”. Semoga ini bermanfaat. Terima Kasih!
Tags: Character Building
Posted February 27th, 2010 by andryrinaldi
Dari sebuah cuplikan cerita mengenai “KEPEDULIAN” dimana menceritakan seekor tikus gelisah bahwa ada perangkap tikus yg hampir merenggut nyawanya, banyak kesimpulan yg didapat dari cerita ini, dimana si tikus dihiraukan teman-temannya di satu peternakan mengenai perangkap tikus tsb. Tikus ini pantang menyerah meminta bantuan teman-temannya sebab ia ingin selamat. Alhasil, si tikus pulang, dengan patah hati, kesal, sedih, dan sendiri. Sungguh kasihan si Tikus tsb.
Begitu malam tiba, terdengar bunyi gema di seluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus berhasil menangkap mangsa, tapi nyatanya yang terjebak adalah seekor ular berbisa. Sang istri petani pergi melihat apa yang terjadi, tapi malangnya ia terkena gigitan ular tersebut jatuh sakit, lalu dibawa ke rumah sakit.
Begitu sang Istri tersebut kembali ke rumah, kondisi tubuhnya menggigil & demam. Tak seperti teman-teman si tikus (kambing, ayam, & sapi), suaminya memberikan sup ayam hangat kepada sang istri dimana ayam ternaknya disembelih untuk dijadikan bahan supnya. Tapi sang istri tak langsung sembuh. Lalu sang suami terpaksa membuat gulai kambing, yg didapat dari ladangnya, untuk memberikan makanan kepada tetangga yg datang membesuk sang Istri. Tapi, itupun tak cukup, sang Istri akhirnya meninggal dunia. Suaminya terpaksa membuat penganan dari daging sapi hasil ternakannya bagi yang datang melayat.
Di akhir cerita, semua orang berduka di pemakaman atas nasib buruk yg ditimpa sang Istri dan si tikus pun menangis pada teman-temannya yang telah meninggal oleh sebab sikap acuh-tak-acuh mereka terhadap peringatan bahaya yang menimpa si tikus.
Dalam cerita tersebut, kita diajarkan untuk tidak menyepelekan masalah sekecil apapun, sebab masalah kecilpun dapat berubah menjadi masalah besar, begitu juga dengan hal-hal lain. Kita pun harus peka terhadap masalah orang lain, jangan anggap enteng setiap perkara yang ada. Kita pun harus peduli dengan sesama sebab kita adalah makhluk sosial, seperti yang Tuhan ajarkan bahwa kita dilahirkan di dunia ini untuk “mewartakan kebaikan“. Semua masalah tentu ada solusinya asal kita membuka mata, telinga, hati, dan pikiran kita. Kemudian, ingatlah bahwa kepedulian kita memberi arti kepada orang lain, dan niscaya pahala kita besar dikala kita tutup usia nanti di akhirat.
Tags: Character Building
Posted February 26th, 2010 by
Welcome to Binusian blog. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging! Happy Blogging 🙂
Binusian Link
BEEBLOGGER FORUM
BINUS CENTER
BINUS CORPORATE
BINUS INTERNATIONAL
BINUS ONLINE LEARNING
BINUS BUSINESS SCHOOL
BINUS SCHOOL
BINUS UNIVERSITY